Ada 2 sahabat bernama Nabila yang dipanggil Bila . 1 lagi bernama Amanda yang juga sering dipanggil Manda . Mereka bersahabat sejak taman kanak-kanak . Dimana ada Bila , Manda pun disitu . Kapanpun dimanapun , mereka selalu bersama .
Sampai suatu hari , Manda memberi tau pada Bila bahwa 1 minggu lagi ia akan pergi ke Singapore . Hari perpisahan yang mereka anggap perpisahan sementara itu tiba . ‘’ Ingat , perpisahan bukanlah duka walaupun harus meneteskan air mata. ‘’ Akhirnya mereka tertawa dalam air mata perpisahan .
Saat sampai ke-Singapore , Manda segera menelfon sahabatnya . Ia menitipkan salam untuk semua teman dan guru di sekolah mereka . Suatu hari mereka bertengkar. Cuma masalah sepele , yaitu karna Bila protes di telfon Manda terus.
Tapi , yang lebih marah adalah Manda . Tentu saja Bila kaget dengan tingkah laku sahabatnya itu. Sebagai tanda perdamaian , Bila menulis surat ,
‘’ Hi , Man . Kamu masih marah soal kemaren ya . Ok , aku yang salah . Bukannya aku gak suka kamu telfon , masalahnya hampir tiap menit kau hubungi aku terus . Ada syaratnya kalo kamu mau salahin aku .
Kamu harus baikan sama aku . Aku kan kakak kamu yang selalu ada disamping kamu . Gemana kalo gak ada aku , pasti tiap saat pas kamu pulang sekolah diganggu sama preman gang itu . Hihihihihi. Jadi , kamu mau dong maafan lagi sama
aku , aku gak mau ganggu kamu . Jadi ya aku tulis aja surat ini sama kamu . Plisssss kita baikan ‘n temenan lagi ya... Kalo kamu baikan lagi sama aku , telpon atau sms aku ya . ‘’
Tanpa disadari , Manda telah menangis . Ia cepat-cepat menghapus air matanya . Dan juga cepat2 menelpon Bila . Peertama Manda mengucap salam , sehabis itu , ia minta maaf sambil menangis . Hampir satu jam mereka berbicara .
Saat HP dimatikan , Manda merasa kangen lagi . Tapi ia segera menahan rasa kangennya . Sebagai ganti menelphone , Manda melihat foto kenangan mereka saat masih di Indonesia .
‘’ Manda sayang , makan dulu yuuk . Sudah waktu makan malam nih .’’ Ajak mama Manda yang lembut sekaligus mengagetkan . ‘’ Iya ma , aku segera turun . ‘’ Balasnya . sesampai di depan pintu kamar , Manda pingsan tiba-tiba. Karna mempunyai bad feeling, mama Manda segera naik ke atas . Cepat - cepat Manda di bawa ke rumah sakit .
‘’ Halo kak Nabila ‘’
‘’ Halo juga , ini Lita ya ? Kenapa Lit ? Kok malam-malam nelfon ? ‘’
‘’ iya ini Lita , kak . Tadi saat mau makan malam kak Manda pingsan , dan sekarang ada di rumah sakit dekat perumahan Green House. Aku harap kakak datang ya , Soalnya daritadi kakak manggil nama Kak Bila terus . please kak ‘’
‘’ I i i ya Lit , kakak usahakan datang kesana . kakak tau rumah sakit itu kok . ‘’
Bila menjawab dengan terbata-bata . Tangan nya gemetaran . Rasanya tidak bisa berbicara . Segera ia memberi tahu ke bundanya tentang keadaan sahabatnya itu setelah ia lebih tenang . Bundanya juga bingung .
Karna jika kesana bisa2 kehabisan ticket . Kalau tidak , nyawa Manda jadi taruhan . Sungguh buat pusing kepala . Tapi , setelah pikir panjang, Bundanya memasukan beberapa baju dengan perlengkapan lain. Otomatis Bila senang .
Pada jam 8 malam itu juga bunda + Bila ke Airport . Ticket-nya pas tinggal 2 . Keberuntungan di tangan mereka . Pesawat akan terbang beberapa menit lagi . Jadi masih banyak waktu untuk merpersiapkan semua itu .
Tepat saat sampai di rumah sakit , tangan Manda sedikit bergerak . Air mata membasahi pipi Bila , bunda-nya , mama Manda , adik Manda , dan juga papa Manda . Tiba2 Dokter datang untuk memeriksa . Setelah perawat keluar , dokter memberitahu mereka, “Your daughter is have a tumor. We should do something. But, leave Amanda here. Bay the way, where is Bila? She always mention her name.”
“I am Bila. May I come in?” mohon Bila. Walaupun telat beberapa jam, namun Manda masih bisa bersabar. Segera Bila masuk. Dilihatnya seorang sahabat terbaring lemah diatas kasur. Air mata menetes di pipi Bila dan Manda. “Amanda, kamu kenapa kok bisa ada disini? Harusnya kamu nunggu telfon dariku.” Kata Bila pelan.
“aku minta maaf bikin kamu kesel. Bil, maaf aku menyembunyikan sesuatu yang sangat rahasia. Bahkan keluargaku tak ada yang tau. Hanya Bi Minah yang tau. Bil, aku sejak kecil menderita tumor. Aku awalnya membiarkan ini. Aku tetap bersikap seperti anak normal. Aku tak mau merepotkanmu. Tapi, setelah aku di Singapore, tiba-tiba tumor ini sakit sekali. Makanya aku menelfonmu terus. Aku takut ini menjadi yang terakhir untukku. Bil, aku mau istirahat sebentar. Kamu tolong jagain aku yaa. Bilang sama yang lain agar jangan masuk dulu sampai aku bangun.” Lalu Manda tidur dengan pulas.
Bila meninggalkan ruangan dengan mata bengkak, muka merah, dan badannya panas. Ia menyampaikan semua yang ia dengar. Mama Manda hampir pingsan. Papa Manda tak segan-segan mengomeli Bi Minah. Beberapa saat kemudian, Bila diajak pulang, namun ia tak mau. Ia terus berteriak ia harus menjaga Manda. Sampai Mamanya membuat ia percaya Manda akan baik-baik saja, Bila pulang.
Dirumah sakit hari itu hanya ada Mama, Papa, dan Bi Minah. Keesokan paginya, sebelum mereka semua terbangun, wajah Bila sudah benar-benar merah. Matanya jauh lebih bengkak dari semalam. Badannya gemetaran. Saat ditanya, Bila hanya diam dalam tangisnya.
Dokter keluar dari ruangan dan berkata, “We are so late. She’s gone.”. Mama manda pingsan. Papanya lemas. Lita menangis lebih kencang dari Bila. Bi Minah hanya diam dan meneteskan banyak air mata.
Tadi malam adalah saat terakhir Bila berbicara dengan Manda. Kata-katanya terus terpantul di kepala Bila. Matanya tak terfokus. Dan badannya masih terguncang. Ia telah ditinggalkan sahabat tersayangnnya. Padahari itu tak ada yg berbicara lagi. Terutama Bila. Ia begitu sedih sehingga kadang ia duduk diam tak bergerak memandang ke luar rumah sakit sedangkan matanya tak berkedip.
Dihari pemakaman, Bila memakai baju kuning terang. Ia masih diam seribu bahasa. Dandanannya aneh. Dia tampak seperti orang yang tak punya jiwa lagi. Namun, ditengah upacara pemakaman, dia menangis seperti orang kesurupan. Ia mengucapkan nama Manda berulang kali sambil meraung sekencang-kencangnya.
Dirumah, saat dia sudah agak tenang, Bundanya menanyakan dengan hati-hati. “Bil, kenapa tadi kamu tiba-tiba seperti itu di pemakaman. Kenapa juga kamu memakai baju kuning terang sedangkan yang lain memakai baju hitam? Dandananmu juga sangat kacau.”
“Ma, aku memakai semua perhiasan yang pernah diberikan Manda untukku. Yang bahkan aku belum pernah sentuh sedikitpun. Aku mengenakan baju berwarna kuning, karna kuning artinya persahabatan. Oh iya, di tengah pemakaman aku mendengar bisikan. Bisikan itu menyuruhku kuat dan mengingat persahabatan aku dan Manda. Bisikan itu juga menyanyikan lagu ciptaan Manda untukku. Dan, kau tau Bun, suara itu adalah suara Amanda. Aku tak mungkin salah. Kami bersahabat selama 13 tahun. Tak mungkin aku lupa ataupun salah mengenai suaranya.”
Bunda Bila langsung memeluk putrinya yang tomboy. Dengan sedikit terisak, ia memperhatikan anaknya tak menangis sama sekali. Nabila memandang ke arah telfon dan lagi-lagi tanpa berkedip. Ia masih menunggu telfon dari Manda yang berada di Surga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar